Ketika teman saya hendak membeli maksi, saya ikut saja. Pokonya manut nanti akhirnya ke warung makan mana. Ternyata ada 2 tempat untuk memesan makanan. Pertama warung bakso. Yang kedua warung makan nasi sayur. Saya kebagian memesan mie ayam bakso. Warung mie ayam bakso ini hanya berseberangan dengan warung makan nasi sayur.
Setelah selesai membeli maksi, kami kembali ke sekolah. Saya termasuk yang makan mie ayam tanpa bakso. Selesai makan mie ayam, meja saya ada yang menaruh bungkusan nasi masakan padang. Wah, ini sepertinya rezeki nomplok. Allah selalu tahu kebutuhan saya. Di saat uang dalam dompet menipis kok ya ada yang membari maksi. Alhamdulillah, gimana kalau gini kok masih kurang syukur nikmat.
Tapi saya tidak serakah. Mosok lah lagi wae maem mie ayam kok arep makan masakan padang. Pasti teman-teman akan kaget dan bilang,"Bu Ima ususe dawa. Weteng apa karet?"
Yang jelas, saya tau ilmunya kok. Jangan berlebihan. Maka masakan padang saya bawa pulang. Sore menjelang maghrib (entahlah, nek basa Jawanya sega mbedhedheg alias tidak karuan kalau dimakan), nasi itu tetap saya makan. Setelah khusyu berdoa, alhamdulillah nasinya masih enak. Apalagi sayur dan sambelnya bikin mak pyar. Ada kuah rendang yang bikin ketagihan menyantap.
Siapa yang sudah pernah membeli makanan di Rumah Makan Masakan Padang? Pasti sudah tahu porsi nasinya kan. Banyak sekali! Kok ya ndilalah, sebungkus habis tanpa sisa. Eh, masih ada sisanya kok, yaitu tulang paha ayam dan bungkusnya hehe.
Bicara masakan padang, saya jadi ingat tahun 1999 waktu hamil nok Faiq. Tiap ada kesempatan Ayah selalu membelikan nasi masakan Padang. Langsung pyar, tak ada yang tersisa sedikitpun.
Selasa, 23 Februari 2016
Senin, 22 Februari 2016
Nasi Gudang - Nasi Trancam
Sebelum waktu istirahat, bendahara sekolah mengendarai
sepeda motor keluar pintu gerbang. Dengan bercanda saya bilang,”Tolong bawakan
nasi gratis gak bayar.” Teman saya menjawab,”Beres.”
Beberapa saat kemudian meja saya sudah ada nasi
bungkus. Tapi tidak hanya meja saya saja, melainkan meja teman-teman juga
demikian. Wah, berarti ini makan siang untuk punguji ujian praktek sekolah dan
UKK. Alhamdulillah, uang jajan masuk dompet rapat-rapat, hehe.
Saya membuka bungkusan nasi tadi. Ternyata isinya nasi
gudang dan trancam dengan lauk kakap bakar. Saya memang bersyukur dapat makan
siang gratis. Akan tetapi kalau saya tahu tadi Mas Bendahara keluar benar-benar
mau beli nasi (tak pakai bercanda), saya pesan lauknya wader goreng saja.
Meskipun dari segi harga lebih mahal kakap, tapi saya lebih suka wader goreng
yang gurih dan kriuk.
Perpaduan antara nasi gudang-trancam dan wader goreng
bikin nafsu makan saya naik drastis. Tapi, ya sudahlah. Saya akhirnya menyantap
juga dengan lahap. Maklum, seandainya tidak segera disantap selagi hangat, nasi
gudang rasanya akan berubah.
Saya tetap kirmah, mikir omah alias memikirkan ayam
piaraan saya. Maka nasi gudang tidak saya habiskan, ada sekian persen saya
sisakan buat ayam kesayangan si thole. Mengapa demikian mikir ayam? Karena ayam-ayam
tersebut telah memberikan banyak keuntungan buat keluarga saya (telur dan
kadang daging ayamnya).
Akhirnya saya berpesan pada Mas Bendahara, besok saya
dibelikan nasi sambal dan wader saja (kalau tambah oseng daun kates atau oseng
pare juga tak apalah).
Karanganyar, 22 Pebruari 2016
Sabtu, 20 Februari 2016
Nasi Bandeng
Pulang mengajar perut keroncongan. Saya bermaksud untuk membeli sayur di warung langganan saya, tapi sayang ternyata tutp. Akhirnya saya pulang sampai rumah berharap bisa mencari lauk di tempat lain.
Kalaupun sudah malas keluar rumah lagi, minimal saya sudah punya bandeng presto. Bandeng presto yang saya beli di sekolah tadi. Harganya tidak terlalu mahal. Hanya sepuluh ribu rupiah saja untuk 2 ekor. Tinggal goreng sreng.
Biasanya bila di warung hiks, saya membeli nasi bungkus berupa nasi bandeng plus sambal saja. Maka di rumah juga demikian. Ambil tempe yang masih dibungkus, lalu dibuka, digoreng sreng. Sambil menunggu tempe matang, ambil 4 buah lombok rawit merah, bawang putih lalu diulek di atas cowek.
Setelah tempe matang, tempe diulek bersama sambal bawang tadi. Mantap banget. Dua kali dalam sehari makan dengan nasi bandeng, tempe dan sambal. Makan di rumah dengan nasi bandeng serasa nikmati santap malam di angkringan dan minum teh manis, kental.
Ternyata bisa kok hidup semurah mungkin asal tidak memenuhi gaya hidup.
Barangkali bisa membuka usaha nasi bandeng dan sambal bawang lauk tempe. Ayo segera lakukan aksi berbisnis kecil-kecilan.
Kalaupun sudah malas keluar rumah lagi, minimal saya sudah punya bandeng presto. Bandeng presto yang saya beli di sekolah tadi. Harganya tidak terlalu mahal. Hanya sepuluh ribu rupiah saja untuk 2 ekor. Tinggal goreng sreng.
Biasanya bila di warung hiks, saya membeli nasi bungkus berupa nasi bandeng plus sambal saja. Maka di rumah juga demikian. Ambil tempe yang masih dibungkus, lalu dibuka, digoreng sreng. Sambil menunggu tempe matang, ambil 4 buah lombok rawit merah, bawang putih lalu diulek di atas cowek.
Setelah tempe matang, tempe diulek bersama sambal bawang tadi. Mantap banget. Dua kali dalam sehari makan dengan nasi bandeng, tempe dan sambal. Makan di rumah dengan nasi bandeng serasa nikmati santap malam di angkringan dan minum teh manis, kental.
Ternyata bisa kok hidup semurah mungkin asal tidak memenuhi gaya hidup.
Barangkali bisa membuka usaha nasi bandeng dan sambal bawang lauk tempe. Ayo segera lakukan aksi berbisnis kecil-kecilan.
Jumat, 12 Februari 2016
Jual Gorengan Murah
![]() |
| Gambar 1. Gorengan-gorengan dok.Faiqah Nur Fajri |
Sekarang jaman serba praktis, dan gak pake ribet. Orang cenderung memilih sesuatu yang tidak perlu repot-repot, termasuk soal santap camilan. Sekarang banyak bertebaran warung makan, warung emplek-emplek, angkringan atau warung hiks yang menjual berbagai macam makanan yang murah meriah. Semua serba terjangkau oleh pembeli.
Oleh karena itu, warung-warung sekarang menyediakan camilan juga yang harganya tidak mahal. Sebagai contoh adalah gorengan. Tahu, tempe, bakwan, balok (keteta digoreng), limpung, timus (ubi digoreng), dan lain-lain. Bahannya murah dan dibuat dengan ukuran kecil agar bisa dijual murah. Sehatkah, terjaminkah? Sejauh ini belum pernah mendengar orang yang keracunan karena makan gorengan murah yang baru saja matang. Karena semua serba fresh.
Kalau kita mau, rasanya semua ada peluang. Malu? Singkirkan kata malu. Karena perut perlu segera diisi. Usaha eh bisnis gorengan ini sepertinya gurih lo. Segurih rasa gorengannya? Masih ragu untuk mencoba? Jangan ragu, setttttt nanti keburu dilakukan orang lain. Kalah langkah deh kita.
Ayo bisnis kecil-kecilan dengan usaha jual gorengan murah. Semoga laris manis!
Dodolan Murah
Selasa, 22 September 2015
Makan Daging Tidak Pakai Eneg
Gambar 1. Murid-murid suami (SMP N 2 Karanganyar)
(sumber : dok.pri)
Gema takbir terus mengalun. Beberapa
tempat ibadah masjid dan mushola ramai menyerukan takbir. Saya sendiri malam ini masih mempersiapkan diri untuk sahur besok pagi. Besok pagi saya
menjalankan ibadah puasa Arofah. Suami dan anak saya hari ini telah berpuasa. Kok
berbeda? Tak apalah, yang penting kami tak menyalahkan yang tidak sama dengan
kita. Beda itu indah.
Seperti tahun sebelumnya,
saya akan memasak daging sapi dan kambing yang kami miliki dengan resep praktis
tidak pakai repot. Seperti soto, tongseng, sop dan bakso. Mengapa saya memilih
yang praktis? Karena nanti hasilnya juga tidak bikin eneg. Biasanya suami dan
anak-anak suka. Saya memang menghindari masak menggunakan santan. Bukan apa-apa,
bukan takut kena kolesterol melainkan butuh yang segar-segar.
Saya juga hanya menggunakan
resep ala saya, yang sederhana dan tidak membutuhkan rempah-rempah yang sulit
ditemukan di pasar tradisional. Saya menghindari menggunakan bumbu instan. Sepertinya
bumbu instan aromanya tidak pas di hidung saya dan rasanya tidak cocok di lidah
saya. Bukan ala chef terkenal dan
mungkin sangat jauh berbeda dengan resep makanan yang sudah diujicobakan di
dapur masak majalah, Koran atau televisi.
Bumbu utama untuk soto adalah bawang putih, merica, garam, bumbu
masak, sereh, lengkuas, daun salam, bawang merah goreng tabur. Tambahan yang
lain sambal, kecap, kecambah, seledri, soun,
Bumbu utama untuk sop adalah
bawang putih, merica, garam, bumbu masak, bawang merah goreng tabur. Sayurannya
adalah kubis, seledri, wortel, tomat, kentang, dan daun bawang.
Bumbu utama untuk tongseng
adalah bawang putih, bawang merah, Lombok merah dan rawit, merica, garam, bumbu
masak, bawang merah goreng tabor, kecap, tomat, kubis.
Bumbu utama untuk kuah bakso
adalah bawang putih, , merica, garam, bumbu masak, daun bawang. Untuk membuat
bakso, saya memilih menyerahkan pada penggilingan daging dan pembuat adonan. Semua
resep sudah ada pada penyedia jasa. Saya tinggal membentuk bakso bulat-bulat
saja, tak pakai repot. Bahan pelengkapnya adalah mi, bawang merah tabur,
seledri.
Dari keempat yang saya
sebutkan tak ada unsur santannya, jadi bila dimakan tidak eneg. Saya juga akan
mengundang murid-murid untuk makan bersama di rumah. Saya sadar daging yang ada
di rumah akan berlimpah ruah. Tentu saja dengan harapan berbagi daging akan
lebih memberikan manfaat daripada dimakan sendiri. Cepat habis daging di dalam
kulkas, itu akan lebih baik.
Gambar 2. Murid-murid SMK Tunas Muda Karanganyar
(sumber : dok.pri)
Tak lupa saya mengucapkan
selamat Hari Raya Idhul Adha. Jangan lupa bagi yang mampu, sembelihlah hewan
kurban. Bagi yang belum mampu mulai sekarang bisa menabung sedikit demi
sedikit. Insya Allah niat kita untuk berkurban akan terwujud, amin.
Karanganyar, 22
September 2015
Minggu, 05 April 2015
Rujak Cingur, Kuliner Jawa Timur
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Gambar 1. Rujak cingur, gado-gdo dan lotek
Hari ini saya ingin menikmati
pagi dengan semangat. Maklum, pemberkasan sertifikasi waktunya sangat mepet. Mau
tidak mau saya harus mengisi perut dengan sarapan agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Misalnya kelaparan atau semaput.
Sudah menjadi kebiasaan, setiap
acara pemberkasan seperti ini saya mendapat tugas menggandakan/fotokopi surat
keterangan mengajar, jadwal pelajaran, menyiapkan materai buat saya dan teman-teman,
serta menyiapkan ATK yang dibutuhkan. Praktis saya harus wira-wiri dari sekolah
menuju tempat fotokopi, lalu membeli ATK terakhir ke kantor pos membeli materai
sebanyak 57 buah.
Pagi ini saya menuju warung soto
di depan SD N 3 Karanganyar. Ini atas rekomendasi anak saya, nok Fai. Warung soto
ini milik orang tua Edo. Edo adalah teman nok Fai ketika SD. Saya sangat puas
dengn rasa soto di warung ini. Harganya juga tidak mahal. Semangkuk soto daging
sapi dan teh manis gula batu harganya hanya enam ribu rupiah saja.
Gambar 2. Soto Daging Sapi
Menunggu soto hangat, tidak
terlalu panas, saya mengambil gambar dan update status. Ternyata setelah sampai
di sekolah, teman-teman heboh membicarakan saya makan soto di depan SD N 3 ini.
Halah, mereka membuka fb. Soalnya tidak ada yang menguntit saya, kok ada yang
tahu.
Gambar 3. Poster kreatif, cermati
Siang hari, teman saya yang baik
hati mengajak makan siang. Terus terang saya tidak bisa menolak. Biasanya kalau
repot pemberkasan seperti ini waktunya sampai sore. Tak tahunya saya diajak ke
warung makan Jawa Timuran. Warung makan Arema terletak di Badran Asri,
kecamatan Karanganyar. Tepatnya sebelah barat Stadion 45 Kabupaten Karanganyar.
Pak Muljadi memesan Soto Malang,
Pak Bambang menikmati lotek, Mas Teguh dan saya menyantap gado-gado, dan Pak
Hardiyanto mencicipi kuliner Rujak Cingur. Alhamdulillah, rasanya tidak
mengecewakan. Soal harga juga tidak mahal, pas di kantong.
Seperti biasa, saya harus
mengambil gambar sebagai bukti fisik kalau kami sudah pernah mampir di warung
makan sederhana, yaitu Warung Makan Arema.
Setelah selesai makan, kami
kembali ke sekolah untuk menyelesaikan tugas. Saya merasa puas, hingga sore
saya tetap semangat. Bagi yang ingin menikmati kuliner Jawa Timur-an, sekarang
tidak sulit mencarinya. Selamat beraktivitas!
Karanganyar, 2 April
2015
Langganan:
Postingan (Atom)






